Warga Keluhkan Limbah

  • Bagian Humas
  • Sabtu, 15 Nopember 2003

Dua kasus pencemaran lingkungan akibat limbah dikeluhkan oleh masyarakat. Pertama warga Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, mengeluhkan pembuangan limbah telur busuk yang dihasilkan dari penetasan ayam PT Phokphand. Mereka meminta usaha pengolahan limbah yang dilakukan salah seorang warga desa setempat ini dihentikan. Karena bau busuknya sangat mengganggu warga.
     
     Kasus kedua, pembuangan limbah dari rumah potong hewan (RPH) di Desa Candimulyo, Jombang kota. Pihak RPH membuang kotoran hewan yang dipotong ke dalam sungai yang berada di depan RPH. Padahal di lokasi ini padat perumahan penduduk.
     
     Khusus untuk pengolahan limbah telur busuk, beberapa warga Jatipelem sudah mengadukan masalah ini ke Kantor Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan. Namun kenyataannya sampai sekarang pengolahan telur busuk masih saja berlangsung. "Masalah ini sudah kami laporkan ke beberapa instansi berwewenang. Mulai dari Kantor Lingkungan Hidup, Satpol PP, Dinas Kesehatan. Tetapi sampai sekarang masih tetap saja berlangsung," ujar salah seorang warga kepada Radar Mojokerto, kemarin.
     
     Dikatakan, limbah telur tersebut berasal telur-telur yang tidak menetas. Jumlah setiap harinya rata-rata sekitar 900 telur. "Kami minta usaha pengolahan telur busuk tersebut dihentikan," terangnya.
     
     Dihubungi secara terpisah, Kepala Desa Jatipelem Kusnali membenarkan adanya pengaduan warga desanya atas masalah limbah telur ini. Menurut Kusnali, dari pengaduan ini pihak Pemkab Jombang telah menurunkan tim terpadu dari Kantor Lingkungan Hidup, Satpol PP, Dinas Kesehatan, Bagian Hukum, dan Bagian Ekonomi. "Seingat saya tanggal 20 Oktober lalu sudah dicek oleh tim dan diminta untuk ditutup," ujar Kades Kusnali.
     
     Dikatakan, kalau memang sekarang pengelolaan masih terus berlanjut, berarti pihak pengolah limbah telur tersebut tidak mau memperhatikan hasil pengecekan tim. Untuk itu sebagai aparat desa, pihaknya akan kembali melakukan teguran. "Saya memang dapat laporan lagi kalau masih terus mengolah limbah. Makanya nanti kami akan melakukan teguran," ujar Kusnali.
     
     Sementara itu dari pengamatan Radar Mojokerto di lokasi pembuangan limbah RPH Candimulyo, kondisinya memprihatinkan. Limbah RPH yang berupa isi perut sapi dibuang ke sungai. Padahal kondisi sungai tidak airnya, akibatnya menimbulkan bau busuk dan sumber penyebaran lalat. "Soal ini juga sudah dilakukan protes ke RPH tetapi juga tetap saja tidak ada tindaklanjutnya," ujar seorang warga.
     
     Kasi Humas Kantor Inkom Drs Djoko Suwolo yang dikonfirmasi soal limbah RPH ini mengatakan akan melakukan koodinasi dengan pihak terkait. "Saya tanyakan dulu ke Dinas Peternakan dan Kantor Lingkungan Hidup," ujar Djoko.