SEKTOR PERTANIAN

Tanaman Bahan Makanan

Subsektor ini mencakup komoditi bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedelai, sayur-sayuran, buah-buahan, ketela, kacang hijau, tanaman pangan lainnya dan hasil-hasil produk ikutannya. Termasuk dalam cakupan ini adalah hasil-hasil dari pengolahan yang dilakukan secara sederhana seperti beras tumbuk, gaplek dan sagu.

Data produksi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Jombang, sedangkan data harga seluruhnya bersumber dari data harga yang dikumpulkan oleh BPS Kabupaten Jombang.

Nilai tambah bruto atas dasar yang berlaku diperoleh melalui pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan terlebih dahulu setiap jenis kuantum produksi dengan masing-masing harganya; kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga yang berlaku. Biaya antara tesebut diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap output yang diperoleh dari hasil survey khusus.

Nilai tambah atas dasar harga konstan 1993 dihitung dengan cara revaluasi, yaitu mengalikan kuantum produksi masing-masing tahun dengan harga pada tahun 1993, kemudian dikurangi biaya antara atas dasar harga konstan 1993.

Tanaman Perkebunan

a. Tanaman Perkebunan Rakyat

Komoditi yang dicakup adalah hasil tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat seperti : jambu mete, kelapa, kopi, kapuk, kapas, tebu, tembakau dan cengkeh. Cakupan terebut termasuk produk ikutannya dan hasil-hasil pengolahan sederhana seperti minyak kelapa rakyat, tembakau olahan, kopi olahan dan the olahan.

Data produksi diperoleh dari dinas pertanian tanaman pangan dan perkebunan Kabupaten Jombang, sedangkan data harga diperoleh dari BPS Kabupaten Jombang.

Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara pendekatan produksi. Rasio biaya antara serta rasio margin perdagangan dan biaya transport yang digunakan diperoleh dari Tabel Input-output Indonesia 1985.

Nilai tambah atas dasar harga konstan 1993 diperoleh dengan cara revaluasi, sama seperti yang dilakukan pada tanaman bahan makanan.

b. Tanaman Perkebunan Besar

Kegiatan yang dicakup dalam subsektor ini adalah kegiatan yang memproduksi komoditi perkebunan yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan besar seperti : Karet, teh, kopi, coklat, minyak sawit, inti sawit, tebu, rami serat manila dan tanaman lainnya.

Cara penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 1993 sama seperti yang dilakukan pada tanaman perkebunan rakyat.

Peternakan & Hasil-hasilnya

Subsektor ini mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas maupun hasil-hasil ternak, seperti sapi, kerbau, kuda, babi, kambing, domba,susu segar, wool. Produksi ternak diperkirakan yang dipotong, ditambah perubahan stock populasi ternak dan ekspor ternak neto. Data mengenai jumlah ternak yang dipotong, populasi ternak, produksi susu dan telur serta banyaknya ternak yang keluar masuk wilayah Kabupaten Jombang diperoleh dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jombang BPS Kabupaten Jombang.

Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan atas dasar konstan 1993 dihitung dengan cara mengalikan nilai produksi dengan rasio nilai tambah berasarkan hasil survey khusus pendapatan regional.

Kehutanan

Subsektor kehutanan mencakup penebangan kayu, pengambilan hasil hutan lainnya dan perburuan. Kegiatan penebangan kayu menghasilkan kayu gelondongan, kayu baker, arang dan bamboo; sedangkan hasil kegiatan pengambilan hasil hutan lainnya berupa rotan, damar, kayu kulit, kopal, nipah, nibung, akar-akaran dan sbagainya masih termasuk dalam sektor ini.

Sebagaimana dengan subsektor lainnya, dalam sector pertanian, output subsektor kehutanan dihitung dengan cara mengalikan kuantum produksi dengan harga masing-masing tahun yang menghasilkan output atas dasar harga konstan 1993. Selanjutnya nilai tambah bruto dihirung berdasarkan perkalian antara rasio nilai tambah terhadap outputnya.

Perikanan

Komoditi yang dicakup semua dari kegiatan perikanan laut, perairan umum, tambak, kolam, sawah (mina padi) dan keramba. Data mengenai produksi dan nilai produksi diperoleh dari laporan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jombang. Penghitungan nilai tambah bruto dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah bruto terhadap output. Rasio nilai tambah itu diperoleh dari survey khusus.